thumbnail

On Agustus 29, 2016 with No comments


kabarRepublika - PEKANBARU, Kodam I Bukit Barisan yang bermarkas di Sumatera Utara segera menerjunkan bala bantuan prajurit untuk menangani kebakaran hutan di Riau yang semakin meluas.

Ada dua Satuan Setingkat Kompi (SSK) prajurit TNI AD yang segera di kirim ke Riau untuk membantu Satgas Darat dalam menangani kebakaran.

"Secepatnya dua SSK TNI dari luar Riau segera dikirim. Ini dilakukan agar penanganan kebakaran hutan dan lahan di Riau segera teratasi," ucap Kepala BNPB Willem Rampangilei di Posko Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan Riau Minggu, 28 Agustus 2016.

Komandan Satgas Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan Riau, Brigjen TNI Nurendi menegaskan, pasukan TNI di luar Riau ini nantinya akan ditempatkan di daerah yang parah terjadi kebakaran.

Berdasarkan pemetaan daerah yang parah kebakaran hutan dan lahan ada di Kabupaten Rokan Hilir dan Kota Dumai.

"Pasukan cadangan itu datang dari Sumatera Utara. Semakin banyak cadangan berarti semakin bagus," ucap Nurendi yang juga Komandan Korem 031 Wira Bima Pekanbaru. 


sumber:sindonews.com
thumbnail

On Agustus 19, 2016 with No comments


kabarRepublik - Kelompok militan Abu Sayyaf telah menetapkan 15 Agustus 2016 sebagai batas waktu pemerintah Indonesia untuk membayar tebusan sekira Rp60 miliar agar dapat membebaskan warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi sandera. Jika tidak, mereka tak segan untuk membunuh sanderanya.
Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menegaskan, pemerintah Indonesia tidak akan mau membayar uang tebusan. Kendati telah lewat tiga hari dari waktu yang telah ditetapkan.
"Mungkin batas akhir dilepasin. Ini dilepasin kan? Ya buktinya tidak ada apa-apa. Pemerintah tidak akan mau membayar. Ya saya harap perusahaan (tempat ABK yang disandera bekerja) juga sama seperti pemerintah. Kalau namanya tidak bayar ya tidak bayar. Kita bukan bangsa kambing atau bangsa sapi yang diperah terus," kata Gatot di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Kamis (18/8/2016).
Gatot mengatakan, saat ini dari tujuh orang WNI yang disandera kelompok Abu Sayyaf masih ada lima orang lagi yang masih dalam penyanderaan. Karena dua orang sandera lainnya, yakni Muhammad Sofyan dan Ismail telah melarikan diri.

Menurut mantan Kepala Staf Angkatan Darat, pemerintah tidak akan menyerahkan uang tebusan tersebut. Indonesia akan memberi kesempatan kepada militer Filipina untuk mencoba membebaskan para sanderanya.
"Saya tidak pernah menyarankan gencatan senjata. Pemerintah Indonesia, memberikan kesempatan kepada pemerintah Filipina untuk mereka mencoba membebaskan sandera tersebut. Tentang gimana-gimananya (mekanisme) Menlu yang lebih pantas menyampaikan," ujarnya.
Gatot menegaskan, bahwa saat ini keselamatan WNI menjadi hal yang perlu diutamakan. Ia pun meyakini militer Filipina dapat membebaskan WNI yang disandera dalam keadaan selamat.

"Saya punya keyakinan. Dengan kepemimpinan (Filipina) yang sekarang, (mereka) pasti mampu membebaskan sandera," ujarnya.
sumber:okezone.com
thumbnail

On Agustus 06, 2016 with No comments

Militer, polisi dan warga sipil diminta untuk mobilisasi kekuatan.


kabarRepublika.com - Kementerian Pertahanan China mengingatkan makin memanasnya situasi di Laut China Selatan dapat menimbulkan konfrontasi terbuka alias perang.
 
Melansir situs Russia Today, Kamis, 4 Agustus 2016, Menteri Pertahanan China Chang Wanquan meminta kepada militer, polisi, dan warga sipil agar siap membela dan mempertahankan kedaulatan.
 
"Ancaman keamanan nasional semakin serius. Terutama, datang dari wilayah laut. Karena itu, militer, aparat penegak hukum, serta warga negara sipil harus mempersiapkan diri dalam perang rakyat," ungkapnya.
 
Pernyataan Wanquan ini datang saat meninjau instalasi militer di pesisir Zhejiang, Provinsi China Timur. Seperti diketahui, Beijing menolak putusan Pengadilan Arbitrase Internasional di Den Haag, Belanda, pada 12 Juli lalu, yang memenangkan Filipina atas klaim Laut China Selatan.
 
China juga telah membangun sejumlah landasan dan instalasi militer di terumbu karang dan pulau-pulau buatan yang diklaim oleh sejumlah negara di Asia Tenggara dan Taiwan.
 
Selain itu, China dan Rusia menggelar latihan gabungan Angkatan Laut pada September 2016. Latihan ini dilakukan secara rutin, yang bertujuan memperkuat kerja sama militer kedua negara.

Hal tersebut diungkapkan oleh Juru Bicara Kementerian Pertahanan China, Yang Yujun. Menurutnya, latihan militer bersama ini tidak ditujukan untuk negara lain.

"Ini adalah latihan rutin kedua angkatan bersenjata. Kami tegaskan kalau latihan ini tidak ditujukan untuk pihak ketiga. Tapi untuk memperkuat pengembangan kemitraan kerja sama strategis," katanya.
sumber : viva.co.id

thumbnail

On Juli 30, 2016 with No comments

Negara mana paling ekstrem menurutmu?

kabarRepublika.com - Jadi tentara itu memang tidak mudah, menjadi garda terdepan menjaga negara mereka harus melewati serangkaian latihan fisik dan mental yang amat berat. 
Latihan yang diberikan pun berbeda-beda di setiap negara. Dalam rangka menciptakan prajurit yang hebat, kuat, dan disiplin. Beberapa negara lebih memilih memberikan pelatihan militer yang sangat ekstrem. 
Dilansir brilio.net dari berbagai sumber, Jumat (29/7) ini dia latihan ekstrem tentara dari berbagai negara di dunia 

1. Melompati cincin api (China)

2. Tangan dan kaki diikat lalu ditenggelamkan (Amerika Serikat)

3. Berjalan di atas pipa yang ditembaki (Belarus)

4. Merayap di batuan karang yang tajam (Taiwan)

5. Kayang kemudian dipukul dan tak boleh jatuh (Irak)

6. Memecahkan batu berapi dengan tangan (Rusia)

7. Direndam dalam danau es (Korea Selatan)

8. Mengendalikan kuda di tengah bom asap (Belanda)

9. Merayap dan melompat dari gedung pencakar langit saat malam hari (Israel)

10. Menguliti dan minum darah ular (Indonesia)

sumber:brilio.net
thumbnail

On Juli 25, 2016 with No comments


kabarindonesiaku.com - Penangkapan WNI oleh Abu Sayyaf Grup (ASG) yang sudah terjadi untuk yang kelima kalinya dalam tahun ini mengundang geram banyak pihak.

Wakil Ketua Komisi DPR bidang pertahanan, Meutya Hafid juga ikut angkat bicara.
“Kami tunggu Presiden segera berkomunikasi dengan Presiden Filipina untuk segera melakukan operasi militer. Ketika sudah ada sinyal positif, pemerintah meminta restu Komisi I. Komisi I pasti sepakat,” ujar Meutya kepada Kriminalitas.com saat dihubungi, Kamis (14/7).

Pasalnya, lanjut dia, penahanan oleh ASG ini terkesan berlarut-larut dan tidak ada ujungnya.
Untuk itu, ia meminta Jokowi segera bertindak guna menyelamatkan warganya yang kini berada di tangan ASG.

“Yang lama saja belum bebas, yang baru sudah ditawan lagi. Nantinya malah timbul ketakutan dari para ABK akibat negara tidak bisa melindungi. Mulai sekarang, Indonesia harus tegas. Panglima TNI sudah menyanggupi. Negara menunggu presiden bertindak tegas,” paparnya.
sumber : kriminalitas.com